RSS

Arsip Bulanan: Mei 2011

My Mom is Former Batik Worker

Aku masih ingat betul bagaimana ibu dengan ikhlas menerima upah yang sedikit dari pekerjaannya sebagai buruh batik. Tiap pagi sampai sore beliau berpanas-panasan dengan lilin (malam) yang dipanaskan dengan kompor kecil dengan bahan bakar minyak tanah. Waktu itu aku masih sangatlah kecil dan belum bisa mengerti dengan betul bagaimana beban hidup yang ditanggung kedua orang tuaku. Yang ku tahu waktu itu hanya menikmati masa kecilku yang tidak seberapa bisa aku ingat lagi. Tapi untuk aktivititas ibuku tercinta sebagai seorang pembatik. Ibuku cantik ketika membatik, anggun dan kelihatan begitu sabar. Dan aku sangat tertarik untuk memperhatikannya ketika membatik walaupun tidak pernah ibu mengijinkanku dekat-dekat dengannya ketika membatik, katanya takut kalau nanti aku terkena malam panas dan melukai kulitku.

Tangan ibuku kelihatan begitu letik ketika jari jemarinya memegang canting dan menggoreskan malam pada kain putih yang telah tergambari oleh pola, bagitu sangat menarik dan tidak membosankan memperhatikan beliau ketika membatik. Ketika itu aku belum tahu mengapa ibu meninggalkan pekerjaan itu, padahal aku sangat mengagumi beliau ketika membatik. dan ketika aku beranjak remaja aku mulai mengerti alasan yang mendasarinya, tak lain tak bukan bahwa upah sebagai pembatik tidak cukup untuk memenuhi beban hidup yang harus beliau tanggung.

Dulu batik tidak seberapa diminati dan harganya begitu murah, namun sekarang harganya melambung tinggi. Dan tentunya sudah menjadi rahasia publik bahwa penyebanya karena klain Malaysia terhadap batik dan mematenkan begitu banyak motif batik Indonesia sebagai warisan budaya mereka. Aneh memang negara kita ini, mengapa menunggu diambil orang dulu baru berusaha mempertahankannya.

Namun apakah kesejahteraan pembatik sekarang telah jauh meningkaseiring dengan meningkatnya harga batik yang melambung tinggi dan membuat banyak sekali pengusaha-pengusaha melirik batik sebagai objek dagang bagi usaha mereka?

Baca berita berikut ini dan renungkanlah wahai para pengusaha batik :

Sore itu cuaca agak sedikit mendung,namun wanita yang berstatus janda tinggal dirumah kumuh ditepi sungai yang mengalir didesa Mulyorejo kecamatan Tirto itu tetap bersemangat melawan kebutuhan hidup.

Siruh (42),wanita yang beralamat di Dukuh Babadan RT 07 RW 03 desa Mulyorejo terus melakukan aktifitasnya sehari hari menjadi buruh batik dengan upah sehari antara Rp10 ribu sampai Rp 12 ribu.
Dengan pakaian seadanya didepan rumahnya,tangan Siruh terus mengoleskan cairan malam dari satu motif ke motif yang lain.
Dalam pengakuannya,dia hanya diupah Rp 1000,- per kain,diapun mampu menyelesaikan tugas mulainya itu satu hari mulai dari 10 kain hingga 12 kain saja.
“Kami tetap menikmati apa yang telah ada,meski upahnya sangat murah.Bagi kami yang terpenting bisa bertahan hidup dengan anak-anak,”kata Siruh pasrah.
Siruh ternyata bukan wanita satu-satunya yang bekerja sebagai buruh batik,namun hampir sebagian wanita didesa Mulyorejo bekerja sebagai buruh.Hal ini justru akan mengurangi angka pengangguran paling tidak kaum wanita bisa mempunyai pekerjaan sambilan.
Siruh adalah salah satu anak negeri yang patut kita tauladani.(Gus No)

sumber : http://antasari.net/meski-dihargai-murahburuh-batik-tetap-berkarya/

Kapan pemerintah dan pengusaha terketuk hatinya untuk bisa memperhatikan dan meningkatkan kesejahteraan para pembatik?

Untuk ibuku tercinta, apapun yang engkau usahakan untuk kami para putra-putrimu akan kami dukung. Dan doakan kami agar bisa membahagiakan engkau dan menaikkan haji kalian (Ayah dan Ibu)

Luv U so much my parent :*

 
2 Comments

Posted by pada Mei 20, 2011 in Berbagi

 

lasem_city, this is my ID. If you says that my ID is strange word, I don’t care!

Entah dari mana awalnya aku jatuhkan pilihan untuk menggunakan ID itu untuk account yahoo-ku. Tapai aku punya beberapa alasan mengapa aku menggunakan ID itu, salah satunya agar teman-teman tahu dari mana asalku. Namun sayang bukannya mereka tahu tapi malah bilang ID yang aneh. Tak sedikit yang menanyakan apa itu Lasem dan pastinya aku jawab bahwa Lasem itu tempat asalku, nama sebuah kecamatan di kota Rembang. Dan taukah kalian apa yang mereka katakan selanjutnya ?

“Pasti tidak ada di peta ya”

Huft…. rasanya gondok dan pengen ngamuk but itu bukan sikap yang bagus dan tentunya itu yang mereka harapkan. Mereka hanya ingin memancing emosiku dengan guyonan semacam itu…

Jadi teringat kisah tahun 2008 diakhir bulan Januari, waktu itu kami (mahasiswa jurusan Sistem Informasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, angkatan 2005) tengah melakukan perjalanan dalam rangka Study Excursion disingkatnya SE. Sesuai rute perjalanan yang telah direncanakan bersama, SE dilaksanakan di Jakarta dan Bandung, kebetulan jalur yang dipilih saat pemberangkatan adalah jalur utara. Itu artinya jalur perjalanan kami melewati Lasem, spontan mereka memintaku untuk menunjukkan dimanakah kota lasem yang selama ini aku jadikan ID yahoo-ku. Perjalanan yang kami tempuh memanglah panjang sehingga sebagian besar mereka menggunakan waktu perjalanan itu untuk istirahat (baca tidur). Nah sesuai dengan apa yang mereka minta maka ketika bus melalui Lasem, aku dengan semangat mengatakan.

Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada Mei 13, 2011 in Plong

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.